BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap
organisasi perlu melakukan suatu perencanaan dalam setiap kegiatan
organisasinya, baik perencanaan produksi, perencanaan rekrutmen karyawan baru,
program penjualan produk baru, maupun perencanaan anggarannya. Perencanaan (planning) merupakan
proses dasar bagi organisasi untuk memilih sasaran dan menetapkan bagaimana
cara mencapainya. Oleh karena itu, perusahaan harus menetapkan tujuan dan
sasaran yang hendak dicapai sebelum melakukan proses-proses perencanaan.
Perencanaan
diperlukan dan terjadi dalam berbagai bentuk organisasi, sebab perencanaan ini
merupakan proses dasar manajemen di dalam mengambil suatu keputusan dan
tindakan. Perencanaan diperlukan dalam jenis kegiatan baik itu kegiatan
oranisasi, perusahaan maupun kegiatan di masyarakat, dan perencanaan ada dalam
setiap fungsi-fungsi manajemen, karena fungsi-fungsi tersebut hanya dapat
melaksanakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan.
Perencanaan
merupakan tahapan paling penting dari suatu fungsi manajemen, terutma dalam
menghadapi lingkungan eksternal yang berubah dinamis. Dalam era globalisasi ini, perencanaan harus lebih
mengandalkan prosedur yang rasional dan sistematis dan bukan hanya pada intuisi
dan firasat (dugaan).
Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan
tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan
mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses
terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi
lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.
B. Rumusan Masalah
Agar tidak terjadinya keluar dari
pembahasan berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka perumusan masalah yang
akan dikaji dan dikedepankan adalah sebagai berikut:
1.
Apa pengertian proses perencanaan?
2.
Bagaimana proses perencanaan?
3.
Bagaimana tingkatan perencanaan?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan pokok
permasalahan dalam perumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan ini adalah:
1.
Untuk mengetahui pengertian proses
perencanaan
2.
Untuk mengetahui proses perencanaan
3.
Untuk mengetahui tingkatan perencanaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Proses Perencanaan
Proses adalah urutan
pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain,
mungkin menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya
lainnya yang menghasilkan suatu hasil.Perencanaan adalah suatu proses
mengidentifikasi tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan dan
mengembangkan rencana aktivitas kerja.Proses perencanaan adalah sebuah
rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam
menyusun strategi dan langkah-langkah dalam menyusun dan menyelesaikan sebuah
permasalahan serta memberikan solusi nyata terhadap permasalahan tersebut.
Dalam proses
manajemen, yang menjadi titik awalnya adalah perencanaan. Jadi perencanaan
sebagai awal kita melakukan proses manajemen sebelum kita melakukan
pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan. Menurut George R. Terry
perencanaan adalah: “planning is the selecting and relating of fact and the
making and using of assumption regarding the future in the visualization and
formulating of proposed activities believed necessary to achieve desired
result”. Dalam pengertian tersebut bisa kita simpulkan antara lain:
1.
Perencanaan merupakan kegiatan yang
harus didasarkan pada fakta, data dan keterangan kongkret.
- Perencanaan merupakan suatu pekerjaan mental yang memerlukan pemikiran, imajinasi dan kesanggupan melihat ke masa yang akan datang.
- Perencanaan mengenai masa yang akan datang dan menyangkut tindakan-tindakan apa yang dapat dilakukan terhadap hambatan yang mengganggu kelancaran usaha.
Pada intinya
perencanaan dibuat sebagai upaya untuk merumuskan apa yang sesungguhnya ingin
dicapai oleh sebuah organisasi atau perusahaan serta bagaimana sesuatu yang
ingin dicapai tersebut dapat diwujudkan melalui serangkaian rumusan rencana
kegiatan tertentu.
Proses perencanaan atau planning
adalah bagian dari daur kegiatan manajemen
yang terutama berhubungan dengan pengambilan keputusan
untuk masa depan, baik jangka panjang maupun jangka pendek, sehubungan dengan
pokok pertanyaan: apa, siapa, bagaimana, kapan, dimana dan berapa, baik
sehubungan dengan lembaga yang dimanajemeni maupun usaha-usahanya.
Proses perencanaan dapat
dilaksanakan menyeluruh, misalnya dalam perencanaan
korporat, perencanaan strategis,
atau perencanaan
jangka panjang. Bisa juga dilakukan perdivisi
atau unit bisnis
stategis menjadi rencana divisi atau anak
perusahaan tertentu di dalam suatu korporasi yang lebih besar.
Bisa juga dilakukan perfungsi baik di dalam korporasi, di dalam divisi maupun
unit bisnis individual, misalnya rencana fungsi pemasaran,
rencana fungsi keuangan,
rencana fungsi produksi
dan distribusi,
dan rencana fungsi personalia.
Bagaimana pun lingkup perencanaan yang dilakukan, pokok pertanyaan yang
dipikirkan sama saja: apa, siapa, bagaimana, kapan, di mana, dan berapa.
Perbedaannya menyangkut metode yang digunakan untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut.
B. Proses Perencanaan
a.
Langkah-Langkah Perencanaan
Perencanaan merupakan proses penentuan tujuan dari
pemilihan akibat-akibat yang akan terjadi memulai tindakan-tindakan yang akan
diambil untuk mewujudkannya. Perencanaan selalu berhubungan dengan waktu yang
akan datang dalam menjelaskan konsekuensi-konsekuensi akibat pilihan daripada
tindakan untuk mencapai tujuan lembaga atau perusahaan. Untuk mengerti tentang
fungsi daripada perencanaan atau dari kata lain tindakan-tindakan apa yang akan
dilakukan untuk mencapai tujuan. Hal ini dapat kita lihat pada gambar proses
perencanaan yang menunjukan suatu siklus perencanaan melalui sebelas
langkah/fase. Fase-fase tersebut berulang dan berinteraksi secara berjalan
secara simultan.Pada setiap fase mulai dari awal sampai fase terakhir selalu
melihat kedepan dengan menengok kebelakang, bagaimana suatu fase menentukan
fase berikutnya pada setiap putaran titik waktu.Adapun proses perencanaan
sebagai berikut:[1]
1.
Pengumpulan dan pemrosesan data
Untuk membuat rencana
melalui proses perencanaan harus dilakukan kegiatan-kegiatan melalui penelitian
dari suatu objek sehingga diperoleh data informasi yang relevan dibutuhkan.
Data ini dapat berupa data atau statistik serta keterangan yang lengkap, akurat
dan mutakhir sesuai dengan keperluan. Data tersebut akan merupakan masukan
untuk diolah lebih lanjut menjadi informasi bagi penyusunan rencana.
2.
Diagnosa
Agar data informasi
yang kita olah akurat untuk pembuatan data, maka perlu diadakan tindakan
pemeriksaan yang teliti dan seksama sehingga memperoleh hasil kajian yang tepat
guna daripada masalah yang sedang kita selidiki untuk bahan penentuan
langkah-langkah apa yang seharusnya diambil. Baik menyangkut atas segala
kekurangan untuk peningkatan efektivitas maupun efisiensi atau produktivitas.
3.
Perumusan kebijakan
Tindakan-tindakan yang
dilakukan dalam diagnose untuk mengoreksi dan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan
yang dapat dilakukan, kemudian sehingga dapat menunjukan indikasi untuk membuat
kerangka umum dalam pembuatan keputusan merupakan dasar dari pembuatan
kebijakan. Rumusan kebijakan juga akan mengikuti rambi-rambu kebijakan
pemerintah yang dibuat Negara yang bersangkutan.
4.
Perkiraan kebutuhan masa yang akan datang
Perkiraan akan
berhubungan dengan alternative kecenderungan-kecenderungan masa depan. Dalam
menggariskan arah yang akan kita ikuti, pertama-tama kita perlu untuk
menentukan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi baik kesempatan juga sekaligus
hambatan-hambatannya. Membuat rencana harus membuat perhitungan kemungkinan
menetapkan yang menginventariskan kebutuhan-kebutuhan arah, waktu maupun
besar-besaran daripada iklim ekonomi,
social, budaya maupun politik. Dari fakta-fakta dan kesimpulan yang diketahui
dapat membantu memadukan berbagai sumber daya, dana maupun kelengkapan
fasilitas yang dapat dimanfaatkan, sehingga kita memperoleh keyakinan yang
sebesar-besarnya untuk menarik keuntungan atau manfaat dari prospek yang
diharapkan.
5.
Pembiayaan daripada kebutuhan
Untuk memastikan
tercapainya hasil-hasil yang diharapkan, manajer mempergunakan manusia, materi
alat-alat dan fasilitas yang ada. Kita harus mengubah segala bentuk kebutuhan
tersebut melalui penilaian dengan uang sehingga semua pengeluaran akan
merupakan biaya daripada kebutuhan yang harus kita lakukan. Dengan demikian
jika manajer bisa menentukan terlebih dahulu biaya yang diperlukan untuk
bahan-bahan, fasilitas, gaji dan biaya-biaya lain yang perlu untuk mencapai
hasil-hasil yang diharapkannya, maka ia akan dapat menentukan apakah
hasil-hasil itu sesuai dengan biayanya.
6.
Penentuan target
Sasaran-sasaran yang
akan dicapai tidak bisa ditentukan baik dalam kuantitas maupun kualitas.
Seberapa banyak dan seberapa jauh jumlah jangkauan yang akan dicapai, baik
mengenai biaya, waktu, tenaga, ataupun jumlah dan mutu daripada hasil yang akan
dicapai. Disamping itu jika skala prioritas dalam pengerjaannya perlu
ditentukan mana yang termasuk target jangka pendek, menengah atau jangka
panjang.
7.
Perumusan masalah
Tujuan perencanaan
meliputi dua segi:
1.
Penyajian serangkaian keputusan untuk
disetujui pejabat lembaga/perusahaan/perintahan yang berwenang.
2.
Menyediakan pula kegiatan untuk tindakan
untuk berbagai satuan kerjayang bertanggung jawab dalam penentuan pelaksanaan
mulai dari tahap permulaan pengumpulan dan pengolahan data sampai perumusan
perencanaan beraku bagi setiap aspek, dimensi, unit atau lembaga secara
keseluruhan. Dengan demikian akan Nampak skup dan ruang lingkup apakah itu
tingkat lokal, regional, atau nasional sehingga dapat menunjukan perencanaan
itu untuk yang bersifat mikro atau makro.
8.
Perincian rencana
Setiap rencana harus
dirinci terlebih dahulu sehingga setiap satuan kegiatan menjadi jelas baik
mengenai sasaran, pelaksana, hasil yang diharapkan, waktu, sarana, dan
tahap-tahap pelaksanaan serta biaya diperlukan.Semua kegiatan satuan harus
terintegrasikan atau terpadu untuk mencapai sasaran utama. Proses rincian utama
itu terdiri dari langkah pokok yaitu :
1.
Penyusunan program (programming)
kegiatan penyusunan program adalah membagi-bagi rencana kedalam kelompok
kegiatan.bsetiap kegiatan dalam kelompok ini harus saling menunjang dan bermuara
menuju kepada pencapaian tujuan yang utama. Setiap kelompok ini seperti ini
disebut program. Biasanya satu proram mencakup seluruh kegiatan yang berada
didaerah unit administrasi yang sama dan kegiatan-kegiatan itu saling
tergantung dan saling melengkapi dan semuanya harus dilaksanakan secara
bersamaan atau berurutan.
2.
Identifikasi dari perumusan proyek
setiap program terdiri dari kegiatan-kegiatan yang dapat dikelompokan menjadi
satu unit untuk keperluan pelaksanaan atau perhitungan biayanya unit yang demikian
disebut proyek. Suatu proyek biasanya bertujuan mencapai suatu sasaran yang
merupakan alat dari program itu dan saling menunjang untuk memudahkan
tercapainya tujuan program. Proyek harus didasarkan pada pengidentifikasian dan
perumusan untuk pelaksanaanya. Perumusan proyek adalah tugas yang harus
dikerjakan secara terinci daripada unit, biaya, jadwal dan sebagainya dari
sebuah proyek. Proyek bisa berupa nasional, pusat, pripinsi atau daerah.
9.
Pelaksanaan rencana
Suatu rencana mulai
dilaksanakan apabila masing-masing proyek sudah disahkan untuk dilaksanakan.
Ini berarti bahwa seluruh proses sudah dilaksanakan. Disini terjadi keterkaitan
antara proses perencanaan dengan proses penglolaan dalam rangka rencana
terpadu. Kerangka organisasi untuk berbagai proyek dikembangkan berdasarkan
biaya tahunan atau rencana tahunan. Dalam hubungan dengan ini dialokasikan
sumber daya, dana dan material yang dibutuhkan oleh setiap proyek. Jangka waktu
penyelesaian proyek juga ditentukan juga dikembangkan atau diadakan rencana
operasionalnya seperti pendelegasian wewenang, garis-garis komunkasi dan
konsultasi, penugasan tanggung jawab, pengadaan mekanisme umpan balik dari
pengendalian dan pengawasannya.
10. Penilaian
(evalution)
Penilaian rencana
membantu kegiatan pengambilan keputusan yang bertujuan mengusahakan supaya
pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana, bila menyimpang dapat
segera diadakan tindakan korektif.Tindakan korektif untuk perbaikan diperlukan
sebagai umpan balik bagi penyesuaian rencana yang sedang berjalan. Maksud
diadakan penilaian untuk:
1.
Menyoroti kelemahan-kelemahan
perencanaan (sasaran yang tidak realitas, biaya yang tidak memadai, alokasi
kegiatan pertahun yang tidak cocok dan sebagainya) yang kesemuanya ini
membutuhkan perbaikan atau revisi agar ada keseimbangan kegiatan dalam pelaksanaannya.
Dalam system perencanaan yang menggelinding (rolling plans) rencana setiap
tahun yang sudah dibuat perlu diperbaiki, disempurnakan atau dijadwalkan
kembali berdasarkan:
·
Hasil yang sudah dicapai, hambatan dan
masalah yang ada
·
Perkembangan baru dalam bidang ekonomi
2.
Penilaian merupakan juga suatu diagnosis
terhadap setiap mata rantai kegiatan pada siklus perencanaan, yang memberikan
dasar-dasar bagi penyusunan kembalirencana yang sudah dibuat. Karena itu siklus
kegiatan penyusunan rencana harus diulangi kembali dari awal.
11. Revisi
perencanaan kembali
Apabila suatu rencana
telah dilaksanakan dan hasil penilaian mungkin baik, tetapi mungkin ada
kekurangan dan kelemahan, maka dibuat catatan atau rekomendasi untuk masukan
dalam pembuaran kembali rencana yang akan dating. Kegiatan ini terus berulng
rencana satu tahun pertama diawasi pada tahun kedua, ketiga, keempat, kelima
atau lebih sehingga makin lama makin mantap dan matang menuju sasaran jangka
panjang sesuai dengan tujuan lembaga. Rencana merupakan hasil akhir dari proses
perencanaanatau dengan perkataan lain hasil proses perencanaan adalah rencana.
Sebagai akibat, hasil akhir daripada proses perencanaan adalah rencana.
Perencanaan suatu usaha atau pemerintahan dibuat dalam kondisi yang dinamis
sekalipun kita telah membuat asumsi-asumsi untuk prediksi, namun kondisi yang
situsional kontingensi akan sangat berpengaruh pada pelaksanaanya. Oleh karena
itu tak heran apabila terjadi adanya perubahan-perubahan pengendan terhadap
yang sebenarnya. Walaupun demikian, sampai kini perencanaan suatu kegiatan
dalam memanaji lembaga atau organisasi tetap merupakan suatu kebutuhan sebab
tanpa rencana atau perencanaan yang matang, maka organisasi akan berjalan tak
menentu, sukar dikendalikan dan bisa menemui kegagalan total sebelum waktunya hasil akan dirauk atau dalam peribahasa bisa
dikatakan juga sebelum berkembang dan bisa ini bujang bagi organisasi yang
bersangkutan akan menemui kegagalan.
b.
Proses perencanaan terpadu (integrating
the planning process)[2]
Dalam uraian ini, perlu dibedakan antara rencana
(plan) dan perencanaan (planning). A.F. sikula (1973) berpendapat bahwa :
“rencana adalah sebuah potret sedang perencanaan adalah sebuah gambar bergerak
(plan is a snapshot, but planning is a motion picture). Rencana adalah kerangka
kerja yang menggambarkan secara detail metode-metode dan tugas yang harus
diimplementasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Rencana
dikembangkan segera setelah manajer memilih dan menentukan strategi yang tepat
bagi organisasi dalam mencapai tujuannya.Rencana dirancang untuk mengkoordinasikan
aktivitas-aktivitas dalam organisasi untuk memudahkan dalam pencapaian tujuan.
Sedangkan perencanaan adalah proses pengidentifikasian metode-metode yang akan
digunakan. Tugas-tugas yang akan digunakan dan batas waktu untuk menentukan
implementasi dari metode-metode tersebut dalam organisasi. Perencanaan
strategic mengarah pada pemilihan strategi yang akan diimplementasikan,
sedangkan rencana adalah proses yang mengarahkan implementasi dari strategi
yang telah dipilih (aldag stearn 1987). Perencanaan bertanggung jawab tidak
hanya untuk dikembangkan kepada rencana-rencana akan tetapi juga memberikan
masukan saran pada manajer tentang tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan
dalam hubungannya dengan rencana-rencana tersebut. Oleh karena itu seorang
perencana harusmemilih kualifikasi-kualifikasi: pertama ia harus memiliki
pertimbangan-pertimbangan pengalaman spesialis dalam organisasional. Kedua, ia
harus dapat melihat organisasi secara keseluruhan. Ketiga, perencana harus
memiliki beberapa pengetahuan dan menaruh perhatian pada kegiatan kepentingan
social, budaya, politik, teknik, ekonomi, informasi dan beberapa yang
berpengaruh kepada organisasi dimasa dating. Keempat, perencana harus dapat
bekerja dengan baik dengan semua staf yang terkait dan berkepentingan.dalam
kegiatan-kegiatan daripada seorang perencana ada tiga hal yang harus mendapat
perhatian:
1.
Mempunyai wawasan keseluruhan tentang
proses perencanaan.
2.
Dapat mengevaluasi pengembangan rencana.
3.
Dapat memecahkan masalah-masalah
perencanaan.
Fokus
utama daripada kegiatan-kegiatan perencana member usul, saran dan nasihat pada
manajemen tentang apa dan bagaimana yang seharusnya dikerjakan untuk masa yang
akan dating.
c.
Perencanaan pada tingkat-tingkat
organisasi[3]
Perencanaan dikerjakan pada semua tingkat
organisasi.Pada tingkat manjemen puncak disebut perencanaan strategis
(strategic planning) memperlihatkan tujuan organisasi dalam posisi dengan
lingkungan. Tentunya pada tingkatan ini perencanaan akan dihadapkan pada
ketidakpastian, dimana setiap langkah yang diambil oleh organisasi harus
memperhitungkan resiko yang akan harus terjadi pada tingkatan perencana. Pada
tingkat manajemen menengah, perencanaan ditujukan untuk melaksanakan
rencana-rencana strategi dengan cara mengkoordinasikan semua kegiatan-kegiatan
pada setiap unit organisasiyang berbeda. Perencanaan pada tingkat ini disebut
perencanaan taktis (tactical planning), termasuk didalamnya mengatur
sumber-sumber yang akan dipergunakan untuk menolong organisasi dalam mencapai
organisasi strategis. Manajer bekerja untuk mengembangkan alternative dan
estimasi kemungkinan untuk memperoleh pendapatan. Kepastian dan ketidakpastian
akan menjadi persoalan dalam pengambilan keputusan. Pada tingkat menengah lebih
banyak kebijakan internal untuk melanjutkan dan melaksanakan strategi dan
kebijakan yang telah ditentukan.Kemungkinan resiko akan dapat diperkecil dengan
bantuan teknik kuantitatif melalui riset dan peramalan. Pada tingkat manajemen
bawah membuat perencanaan operasional (operational planning), para manajer ini
pertama harus mengikuti rencana taktis yang telah ditentukan oleh manajer
tingkat menengah untuk mencapai sasaran-sasaran strategi yang telah ditetapkan
oleh manajer tingkat puncak.Rencana operasional sifatnya spesifik dan berwujud.
Didalamnya terdapat resiko akan tetapi biasanya banyak informasi yang masuk
ketangan manajer dalam pengambilan keputusan. Masalah utama lingkungannya
terdiri dari tujuan, kebijakan, budget, prosedur dan aturan.Rencana pada
tingkat ini lebi otomatis dan keputusan dapat dikuantifikasikan dalam
menghasilkan produksi atau biaya dan anggarannnya.
C. Tingkatan Perencanaan
Pada
umumnya, manajermen miliki tanggung jawab yang sama, yaitu melakukan
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, serta penyusunan staf.
Kebutuhan akan adanya perencanaan tidak hanya ada pada satu tingkat (puncak)
saja dari suatu organisasi melainkan setiap tingkat dan setiap bidang usaha
memerlukan adanya perencanaan bila menghendaki suatu usaha yang efisien dan
efektif.
Sudah
barang tentu perencanaan yang dilakukan pada berbagai tingkat organisasi itu
tidak sama tentang cara merumuskannya maupun isi dan sifatnya. Namun dari sisi
tingkat atau level manajemen dapat dibagi menjadi tiga macam:[4]
1.
Tingkat atas (top level)
Pada
tingkat ini perencanaan lebih bersifat memimpin directive, yaitu memberi petunjuk serta menggariskan dalam segala
hal, baik mengenai tujuan maupun caranya, jadi belum begitu positif untuk
segera dapat dilaksanakan. Top Level Management terdiri dari Direksi (BOD)
dan Chief Executive Officer (CEO), Chief Executive Officer juga disebut General
Manager (GM) atau Managing Director (MD) atau Presiden. Direksi adalah wakil
dari Pemegang Saham, yaitu mereka dipilih oleh Pemegang Saham perusahaan.
Demikian pula Chief Executive Officer dipilih oleh Dewan Direksi dari suatu
organisasi. Peran utama dari manajemen tingkat atas sebagai berikut:
a. Manajementingkatatasmenentukan
tujuan, kebijakandanrencanaorganisasi.
b. Manajer
memobilisasi (merakitdanmembawabersama-sama) sumberdaya yang tersedia.
c. Manajementingkatataskebanyakanbekerja
dari pemikiran, perencanaandanmemutuskan. Olehkarena itu, merekajugadisebutsebagai
Administrator danOtakorganisasi.
d. Manajer
menghabiskanlebihbanyakwaktudalamperencanaandanpengorganisasian.
e. Manajer
mempersiapkanrencanajangkapanjangdariorganisasi yang umumnyadibuatuntuk 5
sampai 20 tahun.
f. Manajementingkatatasmemilikikewenangandantanggungjawabmaksimum.
Manajer adalahotoritasatasatauakhirdalamorganisasi. Manajer bertanggungjawablangsungkepadaPemegangSaham,
PemerintahdanMasyarakatUmum.Keberhasilanataukegagalanorganisasisangattergantungpadaefisiensidanpengambilankeputusan.
g. Manajer
membutuhkanlebihbanyakketerampilankonseptualdankurangdalamketerampilanteknis.
2.
Tingkat menengah (midle level)
Pada
tingkat ini merupakan penja-baran dan pelengkap dari perencanaan tingkat atas.
Perencanaan lebih bersifat administratif (manajerial) yaitu sudah lebih jelas
menunjukkan kepada cara pencapaian tujuan dan bersifat memberi petunjuk
pelak-sanaan dengan sebaik-baiknya.Middle Level Management
terdiridariKepalaDepartemen (HOD), Manajer Cabang danEksekutif
Junior.KepalaDepartemenadalahManajerKeuangan, Manajer Pembelian dan
lain-lain.ManajerCabangadalahkepalacabangatau unit lokal.Junior EksekutifadalahAsistenManajerKeuangan,
AsistenManajer Pembelian dan lain-lain.Manajementingkat Tengah
dipiliholehManajemen Tingkat
Atas.Manajementingkatmenengahlebihmenekankanpadatugassebagaiberikut:
a. Manajementingkatmenengahmemberikanrekomendasi
(saran) kepadamanajementingkatatas
b. Menjalankankebijakandanrencana
yang dibuatolehmanajementingkat atas
c. Mengkoordinasikankegiatandarisemua
departemen
d. Manajer
harusberkomunikasidenganmanajementingkatatasdanmanajementingkat yang lebih
rendah
e. Manajer
menghabiskanlebihbanyakwaktudalamkoordinasidan berkomunikasi
f. Manajer
mempersiapkanrencanajangkapendekdepartemenmereka yang umumnyadibuat untuk 1
sampai 5 tahun
g. Manajemen
Tingkat menengahmemilikiketerbatasanwewenangdantanggungjawab.Merekaadalahperantaraantaramanajementingkatatasdanmanajemen
yang lebih rendah
h. Manajer
bertanggungjawablangsungkepada CEO dandewan direksi
i.
Memerlukanketerampilanlebihdalammanajerialdanteknisdankurangdalamketerampilan
konseptual
3.
Tingkat bawah (bottom-up)
Yaitu
tingkat di mana tiap-tiap anggota kelompok lebih banyak mempunyai tugas
menghasilkan, sehingga tugas itu bersifat operatif (operational) yaitu pekerjaan yang harus berakhir dengan
menghasilkan sesuatu yang konkret. Maka sifat dari perencanaan pada tingkat ini
juga lebih bersifat operatif, yaitu cara menjalankan sesuatu agar mencapai
hasil yang sebaik dan sebesar mungkin.Low Level
Management terdiridarimandordanpengawas.Merekadipiliholehmanajementingkatmenengah. Disebutjugatingkat
Pengawas/Supervisor atau First Line of Management.Manajementingkat yang
lebihrendahmelakukankegiatansebagaiberikut:
a. Manajementingkatrendahmengarahkanpara
pekerja/karyawan
b. Manajer
mengembangkan moral padapara pekerja
c. Manajer memeliharahubunganantarapekerjadanmanajementingkat
menengah
d. Manajementingkat
yang lebihrendahmenginformasikanparapekerjatentangkeputusan yang diambiloleh
manajemen. Manajer jugamenginformasikanmanajemententangkinerja, kesulitan,
perasaan, tuntutan dan lain-lain daripara pekerja
e. Manajer
menghabiskanlebihbanyakwaktudalammengarahkandan mengendalikan
f. Manajertingkat
yang lebihrendahmembuatrencana harian, mingguan dan bulanan
g. Manajer
memilikikewenanganterbatas,tetapitanggungjawabpentinguntukmendapatkanpekerjaan
yang dilakukandariparapekerja.
Merekasecarateraturmelaporkandanbertanggungjawablangsungkepadamanajementingkat
menengah
h. Seiringdenganpengalamandanmanajemendasarketerampilan,
merekajugamemerlukanketerampilan yang lebihteknisdankemampuanberkomunikasi.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Proses perencanaan adalah sebuah rangkaian kegiatan
yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam menyusun strategi dan
langkah-langkah dalam menyusun dan menyelesaikan sebuah permasalahan serta
memberikan solusi nyata terhadap permasalahan tersebut
2.
Proses perencanaan:
1)
Pengumpulan dan pemrosesan data
(colection and processing of data)
2)
Diagnosa (diagnosis)
3)
Perumusan kebijakan (formulation of
pollcy)
4)
Perkiraan kebutuhan masa yang akan
dating (assemesment of future needs)
5)
Pembiayaan dari kebutuhan (costing of
needs)
6)
Penentuan target (target setting)
7)
Perumusan rencana (plan formulation)
8)
Perincian rencana (paln elaboration)
9)
Pelaksanaan rencana (plan
implementation)
10) Penilaian
(evalution)
11) Revisi
perencanaan kembali (revision and repplanning)
3.
Tingkatan perencanaan
a. Tingkat
atas (top level).
b. Tingkat
menengah (midle level)
c. Tingkat
bawah (bottom-up)
Daftar Pustaka
1.
Hasibuan, Malayu SP, (2011), Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, Jakarta:
Bumi Aksara.
2.
Ukas, Maman, (2004), Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi.
Bandung: Agnini.
[1]Ukas, Maman, (2004), Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi.
Bandung: Agnini. Hlm 182
[2]Ukas, Maman, (2004), Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi.
Bandung: Agnini. Hlm 185
[3]Ukas, Maman, (2004), Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi.
Bandung: Agnini. Hlm 186
[4]Hasibuan, Malayu SP, (2011), Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, Jakarta: Bumi Aksara. Hlm
97
Tidak ada komentar:
Posting Komentar