Sabtu, 07 Maret 2015

PROSES DAN TINGKATAN PERENCANAAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Setiap organisasi perlu melakukan suatu perencanaan dalam setiap kegiatan organisasinya, baik perencanaan produksi, perencanaan rekrutmen karyawan baru, program penjualan produk baru, maupun perencanaan anggarannya. Perencanaan (planning) merupakan proses dasar bagi organisasi untuk memilih sasaran dan menetapkan bagaimana cara mencapainya. Oleh karena itu, perusahaan harus menetapkan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai sebelum melakukan proses-proses perencanaan.
Perencanaan diperlukan dan terjadi dalam berbagai bentuk organisasi, sebab perencanaan ini merupakan proses dasar manajemen di dalam mengambil suatu keputusan dan tindakan. Perencanaan diperlukan dalam jenis kegiatan baik itu kegiatan oranisasi, perusahaan maupun kegiatan di masyarakat, dan perencanaan ada dalam setiap fungsi-fungsi manajemen, karena fungsi-fungsi tersebut hanya dapat melaksanakan keputusan-keputusan yang telah ditetapkan.
Perencanaan merupakan tahapan paling penting dari suatu fungsi manajemen, terutma dalam menghadapi lingkungan eksternal yang berubah dinamis. Dalam era globalisasi ini, perencanaan harus lebih mengandalkan prosedur yang rasional dan sistematis dan bukan hanya pada intuisi dan firasat (dugaan).
Dalam manajemen, perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi-fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.

B.     Rumusan Masalah
Agar tidak terjadinya keluar dari pembahasan berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka perumusan masalah yang akan dikaji dan dikedepankan adalah sebagai berikut:
1.      Apa pengertian proses perencanaan?
2.      Bagaimana proses perencanaan?
3.      Bagaimana tingkatan perencanaan?
C.    Tujuan Penulisan
Berdasarkan pokok permasalahan dalam perumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian proses perencanaan
2.      Untuk mengetahui proses perencanaan
3.      Untuk mengetahui tingkatan perencanaan


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Proses Perencanaan
Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain, mungkin menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya yang menghasilkan suatu hasil.Perencanaan adalah suatu proses mengidentifikasi tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan dan mengembangkan rencana aktivitas kerja.Proses perencanaan adalah sebuah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam menyusun strategi dan langkah-langkah dalam menyusun dan menyelesaikan sebuah permasalahan serta memberikan solusi nyata terhadap permasalahan tersebut.
Dalam proses manajemen, yang menjadi titik awalnya adalah perencanaan. Jadi perencanaan sebagai awal kita melakukan proses manajemen sebelum kita melakukan pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan. Menurut George R. Terry perencanaan adalah: “planning is the selecting and relating of fact and the making and using of assumption regarding the future in the visualization and formulating of proposed activities believed necessary to achieve desired result”. Dalam pengertian tersebut bisa kita simpulkan antara lain:
1.      Perencanaan merupakan kegiatan yang harus didasarkan pada fakta, data dan keterangan kongkret.
  1. Perencanaan merupakan suatu pekerjaan mental yang memerlukan pemikiran, imajinasi dan kesanggupan melihat ke masa yang akan datang.
  2. Perencanaan mengenai masa yang akan datang dan menyangkut tindakan-tindakan apa yang dapat dilakukan terhadap hambatan yang mengganggu kelancaran usaha.
Pada intinya perencanaan dibuat sebagai upaya untuk merumuskan apa yang sesungguhnya ingin dicapai oleh sebuah organisasi atau perusahaan serta bagaimana sesuatu yang ingin dicapai tersebut dapat diwujudkan melalui serangkaian rumusan rencana kegiatan tertentu.
Proses perencanaan atau planning adalah bagian dari daur kegiatan manajemen yang terutama berhubungan dengan pengambilan keputusan untuk masa depan, baik jangka panjang maupun jangka pendek, sehubungan dengan pokok pertanyaan: apa, siapa, bagaimana, kapan, dimana dan berapa, baik sehubungan dengan lembaga yang dimanajemeni maupun usaha-usahanya.
Proses perencanaan dapat dilaksanakan menyeluruh, misalnya dalam perencanaan korporat, perencanaan strategis, atau perencanaan jangka panjang. Bisa juga dilakukan perdivisi atau unit bisnis stategis menjadi rencana divisi atau anak perusahaan tertentu di dalam suatu korporasi yang lebih besar. Bisa juga dilakukan perfungsi baik di dalam korporasi, di dalam divisi maupun unit bisnis individual, misalnya rencana fungsi pemasaran, rencana fungsi keuangan, rencana fungsi produksi dan distribusi, dan rencana fungsi personalia. Bagaimana pun lingkup perencanaan yang dilakukan, pokok pertanyaan yang dipikirkan sama saja: apa, siapa, bagaimana, kapan, di mana, dan berapa. Perbedaannya menyangkut metode yang digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

B.     Proses Perencanaan
a.       Langkah-Langkah Perencanaan
Perencanaan merupakan proses penentuan tujuan dari pemilihan akibat-akibat yang akan terjadi memulai tindakan-tindakan yang akan diambil untuk mewujudkannya. Perencanaan selalu berhubungan dengan waktu yang akan datang dalam menjelaskan konsekuensi-konsekuensi akibat pilihan daripada tindakan untuk mencapai tujuan lembaga atau perusahaan. Untuk mengerti tentang fungsi daripada perencanaan atau dari kata lain tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Hal ini dapat kita lihat pada gambar proses perencanaan yang menunjukan suatu siklus perencanaan melalui sebelas langkah/fase. Fase-fase tersebut berulang dan berinteraksi secara berjalan secara simultan.Pada setiap fase mulai dari awal sampai fase terakhir selalu melihat kedepan dengan menengok kebelakang, bagaimana suatu fase menentukan fase berikutnya pada setiap putaran titik waktu.Adapun proses perencanaan sebagai berikut:[1]
1.      Pengumpulan dan pemrosesan data
Untuk membuat rencana melalui proses perencanaan harus dilakukan kegiatan-kegiatan melalui penelitian dari suatu objek sehingga diperoleh data informasi yang relevan dibutuhkan. Data ini dapat berupa data atau statistik serta keterangan yang lengkap, akurat dan mutakhir sesuai dengan keperluan. Data tersebut akan merupakan masukan untuk diolah lebih lanjut menjadi informasi bagi penyusunan rencana.
2.      Diagnosa
Agar data informasi yang kita olah akurat untuk pembuatan data, maka perlu diadakan tindakan pemeriksaan yang teliti dan seksama sehingga memperoleh hasil kajian yang tepat guna daripada masalah yang sedang kita selidiki untuk bahan penentuan langkah-langkah apa yang seharusnya diambil. Baik menyangkut atas segala kekurangan untuk peningkatan efektivitas maupun efisiensi atau produktivitas.
3.      Perumusan kebijakan
Tindakan-tindakan yang dilakukan dalam diagnose untuk mengoreksi dan mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan, kemudian sehingga dapat menunjukan indikasi untuk membuat kerangka umum dalam pembuatan keputusan merupakan dasar dari pembuatan kebijakan. Rumusan kebijakan juga akan mengikuti rambi-rambu kebijakan pemerintah yang dibuat Negara yang bersangkutan.
4.      Perkiraan kebutuhan masa yang akan datang
Perkiraan akan berhubungan dengan alternative kecenderungan-kecenderungan masa depan. Dalam menggariskan arah yang akan kita ikuti, pertama-tama kita perlu untuk menentukan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi baik kesempatan juga sekaligus hambatan-hambatannya. Membuat rencana harus membuat perhitungan kemungkinan menetapkan yang menginventariskan kebutuhan-kebutuhan arah, waktu maupun besar-besaran daripada  iklim ekonomi, social, budaya maupun politik. Dari fakta-fakta dan kesimpulan yang diketahui dapat membantu memadukan berbagai sumber daya, dana maupun kelengkapan fasilitas yang dapat dimanfaatkan, sehingga kita memperoleh keyakinan yang sebesar-besarnya untuk menarik keuntungan atau manfaat dari prospek yang diharapkan.
5.      Pembiayaan daripada kebutuhan
Untuk memastikan tercapainya hasil-hasil yang diharapkan, manajer mempergunakan manusia, materi alat-alat dan fasilitas yang ada. Kita harus mengubah segala bentuk kebutuhan tersebut melalui penilaian dengan uang sehingga semua pengeluaran akan merupakan biaya daripada kebutuhan yang harus kita lakukan. Dengan demikian jika manajer bisa menentukan terlebih dahulu biaya yang diperlukan untuk bahan-bahan, fasilitas, gaji dan biaya-biaya lain yang perlu untuk mencapai hasil-hasil yang diharapkannya, maka ia akan dapat menentukan apakah hasil-hasil itu sesuai dengan biayanya.
6.      Penentuan target
Sasaran-sasaran yang akan dicapai tidak bisa ditentukan baik dalam kuantitas maupun kualitas. Seberapa banyak dan seberapa jauh jumlah jangkauan yang akan dicapai, baik mengenai biaya, waktu, tenaga, ataupun jumlah dan mutu daripada hasil yang akan dicapai. Disamping itu jika skala prioritas dalam pengerjaannya perlu ditentukan mana yang termasuk target jangka pendek, menengah atau jangka panjang.
7.      Perumusan masalah
Tujuan perencanaan meliputi dua segi:
1.      Penyajian serangkaian keputusan untuk disetujui pejabat lembaga/perusahaan/perintahan yang berwenang.
2.      Menyediakan pula kegiatan untuk tindakan untuk berbagai satuan kerjayang bertanggung jawab dalam penentuan pelaksanaan mulai dari tahap permulaan pengumpulan dan pengolahan data sampai perumusan perencanaan beraku bagi setiap aspek, dimensi, unit atau lembaga secara keseluruhan. Dengan demikian akan Nampak skup dan ruang lingkup apakah itu tingkat lokal, regional, atau nasional sehingga dapat menunjukan perencanaan itu untuk yang bersifat mikro atau makro.
8.      Perincian rencana
Setiap rencana harus dirinci terlebih dahulu sehingga setiap satuan kegiatan menjadi jelas baik mengenai sasaran, pelaksana, hasil yang diharapkan, waktu, sarana, dan tahap-tahap pelaksanaan serta biaya diperlukan.Semua kegiatan satuan harus terintegrasikan atau terpadu untuk mencapai sasaran utama. Proses rincian utama itu terdiri dari langkah pokok yaitu :
1.      Penyusunan program (programming) kegiatan penyusunan program adalah membagi-bagi rencana kedalam kelompok kegiatan.bsetiap kegiatan dalam kelompok ini harus saling menunjang dan bermuara menuju kepada pencapaian tujuan yang utama. Setiap kelompok ini seperti ini disebut program. Biasanya satu proram mencakup seluruh kegiatan yang berada didaerah unit administrasi yang sama dan kegiatan-kegiatan itu saling tergantung dan saling melengkapi dan semuanya harus dilaksanakan secara bersamaan atau berurutan.
2.      Identifikasi dari perumusan proyek setiap program terdiri dari kegiatan-kegiatan yang dapat dikelompokan menjadi satu unit untuk keperluan pelaksanaan atau perhitungan biayanya unit yang demikian disebut proyek. Suatu proyek biasanya bertujuan mencapai suatu sasaran yang merupakan alat dari program itu dan saling menunjang untuk memudahkan tercapainya tujuan program. Proyek harus didasarkan pada pengidentifikasian dan perumusan untuk pelaksanaanya. Perumusan proyek adalah tugas yang harus dikerjakan secara terinci daripada unit, biaya, jadwal dan sebagainya dari sebuah proyek. Proyek bisa berupa nasional, pusat, pripinsi atau daerah.
9.      Pelaksanaan rencana
Suatu rencana mulai dilaksanakan apabila masing-masing proyek sudah disahkan untuk dilaksanakan. Ini berarti bahwa seluruh proses sudah dilaksanakan. Disini terjadi keterkaitan antara proses perencanaan dengan proses penglolaan dalam rangka rencana terpadu. Kerangka organisasi untuk berbagai proyek dikembangkan berdasarkan biaya tahunan atau rencana tahunan. Dalam hubungan dengan ini dialokasikan sumber daya, dana dan material yang dibutuhkan oleh setiap proyek. Jangka waktu penyelesaian proyek juga ditentukan juga dikembangkan atau diadakan rencana operasionalnya seperti pendelegasian wewenang, garis-garis komunkasi dan konsultasi, penugasan tanggung jawab, pengadaan mekanisme umpan balik dari pengendalian dan pengawasannya.
10.  Penilaian (evalution)
Penilaian rencana membantu kegiatan pengambilan keputusan yang bertujuan mengusahakan supaya pelaksanaan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana, bila menyimpang dapat segera diadakan tindakan korektif.Tindakan korektif untuk perbaikan diperlukan sebagai umpan balik bagi penyesuaian rencana yang sedang berjalan. Maksud diadakan penilaian untuk:
1.      Menyoroti kelemahan-kelemahan perencanaan (sasaran yang tidak realitas, biaya yang tidak memadai, alokasi kegiatan pertahun yang tidak cocok dan sebagainya) yang kesemuanya ini membutuhkan perbaikan atau revisi agar ada keseimbangan kegiatan dalam pelaksanaannya. Dalam system perencanaan yang menggelinding (rolling plans) rencana setiap tahun yang sudah dibuat perlu diperbaiki, disempurnakan atau dijadwalkan kembali berdasarkan:
·         Hasil yang sudah dicapai, hambatan dan masalah yang ada
·         Perkembangan baru dalam bidang ekonomi
2.      Penilaian merupakan juga suatu diagnosis terhadap setiap mata rantai kegiatan pada siklus perencanaan, yang memberikan dasar-dasar bagi penyusunan kembalirencana yang sudah dibuat. Karena itu siklus kegiatan penyusunan rencana harus diulangi kembali dari awal.
11.  Revisi perencanaan kembali
Apabila suatu rencana telah dilaksanakan dan hasil penilaian mungkin baik, tetapi mungkin ada kekurangan dan kelemahan, maka dibuat catatan atau rekomendasi untuk masukan dalam pembuaran kembali rencana yang akan dating. Kegiatan ini terus berulng rencana satu tahun pertama diawasi pada tahun kedua, ketiga, keempat, kelima atau lebih sehingga makin lama makin mantap dan matang menuju sasaran jangka panjang sesuai dengan tujuan lembaga. Rencana merupakan hasil akhir dari proses perencanaanatau dengan perkataan lain hasil proses perencanaan adalah rencana. Sebagai akibat, hasil akhir daripada proses perencanaan adalah rencana. Perencanaan suatu usaha atau pemerintahan dibuat dalam kondisi yang dinamis sekalipun kita telah membuat asumsi-asumsi untuk prediksi, namun kondisi yang situsional kontingensi akan sangat berpengaruh pada pelaksanaanya. Oleh karena itu tak heran apabila terjadi adanya perubahan-perubahan pengendan terhadap yang sebenarnya. Walaupun demikian, sampai kini perencanaan suatu kegiatan dalam memanaji lembaga atau organisasi tetap merupakan suatu kebutuhan sebab tanpa rencana atau perencanaan yang matang, maka organisasi akan berjalan tak menentu, sukar dikendalikan dan bisa menemui kegagalan total sebelum waktunya  hasil akan dirauk atau dalam peribahasa bisa dikatakan juga sebelum berkembang dan bisa ini bujang bagi organisasi yang bersangkutan akan menemui kegagalan.

b.      Proses perencanaan terpadu (integrating the planning process)[2]
Dalam uraian ini, perlu dibedakan antara rencana (plan) dan perencanaan (planning). A.F. sikula (1973) berpendapat bahwa : “rencana adalah sebuah potret sedang perencanaan adalah sebuah gambar bergerak (plan is a snapshot, but planning is a motion picture). Rencana adalah kerangka kerja yang menggambarkan secara detail metode-metode dan tugas yang harus diimplementasikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Rencana dikembangkan segera setelah manajer memilih dan menentukan strategi yang tepat bagi organisasi dalam mencapai tujuannya.Rencana dirancang untuk mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas dalam organisasi untuk memudahkan dalam pencapaian tujuan. Sedangkan perencanaan adalah proses pengidentifikasian metode-metode yang akan digunakan. Tugas-tugas yang akan digunakan dan batas waktu untuk menentukan implementasi dari metode-metode tersebut dalam organisasi. Perencanaan strategic mengarah pada pemilihan strategi yang akan diimplementasikan, sedangkan rencana adalah proses yang mengarahkan implementasi dari strategi yang telah dipilih (aldag stearn 1987). Perencanaan bertanggung jawab tidak hanya untuk dikembangkan kepada rencana-rencana akan tetapi juga memberikan masukan saran pada manajer tentang tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan dalam hubungannya dengan rencana-rencana tersebut. Oleh karena itu seorang perencana harusmemilih kualifikasi-kualifikasi: pertama ia harus memiliki pertimbangan-pertimbangan pengalaman spesialis dalam organisasional. Kedua, ia harus dapat melihat organisasi secara keseluruhan. Ketiga, perencana harus memiliki beberapa pengetahuan dan menaruh perhatian pada kegiatan kepentingan social, budaya, politik, teknik, ekonomi, informasi dan beberapa yang berpengaruh kepada organisasi dimasa dating. Keempat, perencana harus dapat bekerja dengan baik dengan semua staf yang terkait dan berkepentingan.dalam kegiatan-kegiatan daripada seorang perencana ada tiga hal yang harus mendapat perhatian:
1.      Mempunyai wawasan keseluruhan tentang proses perencanaan.
2.      Dapat mengevaluasi pengembangan rencana.
3.      Dapat memecahkan masalah-masalah perencanaan.
Fokus utama daripada kegiatan-kegiatan perencana member usul, saran dan nasihat pada manajemen tentang apa dan bagaimana yang seharusnya dikerjakan untuk masa yang akan dating.
c.       Perencanaan pada tingkat-tingkat organisasi[3]
Perencanaan dikerjakan pada semua tingkat organisasi.Pada tingkat manjemen puncak disebut perencanaan strategis (strategic planning) memperlihatkan tujuan organisasi dalam posisi dengan lingkungan. Tentunya pada tingkatan ini perencanaan akan dihadapkan pada ketidakpastian, dimana setiap langkah yang diambil oleh organisasi harus memperhitungkan resiko yang akan harus terjadi pada tingkatan perencana. Pada tingkat manajemen menengah, perencanaan ditujukan untuk melaksanakan rencana-rencana strategi dengan cara mengkoordinasikan semua kegiatan-kegiatan pada setiap unit organisasiyang berbeda. Perencanaan pada tingkat ini disebut perencanaan taktis (tactical planning), termasuk didalamnya mengatur sumber-sumber yang akan dipergunakan untuk menolong organisasi dalam mencapai organisasi strategis. Manajer bekerja untuk mengembangkan alternative dan estimasi kemungkinan untuk memperoleh pendapatan. Kepastian dan ketidakpastian akan menjadi persoalan dalam pengambilan keputusan. Pada tingkat menengah lebih banyak kebijakan internal untuk melanjutkan dan melaksanakan strategi dan kebijakan yang telah ditentukan.Kemungkinan resiko akan dapat diperkecil dengan bantuan teknik kuantitatif melalui riset dan peramalan. Pada tingkat manajemen bawah membuat perencanaan operasional (operational planning), para manajer ini pertama harus mengikuti rencana taktis yang telah ditentukan oleh manajer tingkat menengah untuk mencapai sasaran-sasaran strategi yang telah ditetapkan oleh manajer tingkat puncak.Rencana operasional sifatnya spesifik dan berwujud. Didalamnya terdapat resiko akan tetapi biasanya banyak informasi yang masuk ketangan manajer dalam pengambilan keputusan. Masalah utama lingkungannya terdiri dari tujuan, kebijakan, budget, prosedur dan aturan.Rencana pada tingkat ini lebi otomatis dan keputusan dapat dikuantifikasikan dalam menghasilkan produksi atau biaya dan anggarannnya.

C.    Tingkatan Perencanaan
Pada umumnya, manajermen miliki tanggung jawab yang sama, yaitu melakukan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengendalian, serta penyusunan staf. Kebutuhan akan adanya perencanaan tidak hanya ada pada satu tingkat (puncak) saja dari suatu organisasi melainkan setiap tingkat dan setiap bidang usaha memerlukan adanya perencanaan bila menghendaki suatu usaha yang efisien dan efektif.
Sudah barang tentu perencanaan yang dilakukan pada berbagai tingkat organisasi itu tidak sama tentang cara merumuskannya maupun isi dan sifatnya. Namun dari sisi tingkat atau level manajemen dapat dibagi menjadi tiga macam:[4]
1.      Tingkat atas (top level)
Pada tingkat ini perencanaan lebih bersifat memimpin directive, yaitu memberi petunjuk serta menggariskan dalam segala hal, baik mengenai tujuan maupun caranya, jadi belum begitu positif untuk segera dapat dilaksanakan. Top Level Management terdiri dari Direksi (BOD) dan Chief Executive Officer (CEO), Chief Executive Officer juga disebut General Manager (GM) atau Managing Director (MD) atau Presiden. Direksi adalah wakil dari Pemegang Saham, yaitu mereka dipilih oleh Pemegang Saham perusahaan. Demikian pula Chief Executive Officer dipilih oleh Dewan Direksi dari suatu organisasi. Peran utama dari manajemen tingkat atas sebagai berikut:
a.       Manajementingkatatasmenentukan tujuan, kebijakandanrencanaorganisasi.
b.      Manajer memobilisasi (merakitdanmembawabersama-sama) sumberdaya yang tersedia.
c. Manajementingkatataskebanyakanbekerja dari pemikiran, perencanaandanmemutuskan. Olehkarena itu, merekajugadisebutsebagai Administrator danOtakorganisasi.
d.      Manajer menghabiskanlebihbanyakwaktudalamperencanaandanpengorganisasian.
e.    Manajer mempersiapkanrencanajangkapanjangdariorganisasi yang umumnyadibuatuntuk 5 sampai 20 tahun.
f. Manajementingkatatasmemilikikewenangandantanggungjawabmaksimum. Manajer adalahotoritasatasatauakhirdalamorganisasi. Manajer bertanggungjawablangsungkepadaPemegangSaham, PemerintahdanMasyarakatUmum.Keberhasilanataukegagalanorganisasisangattergantungpadaefisiensidanpengambilankeputusan.
g.      Manajer membutuhkanlebihbanyakketerampilankonseptualdankurangdalamketerampilanteknis.
2.      Tingkat menengah (midle level)
Pada tingkat ini merupakan penja-baran dan pelengkap dari perencanaan tingkat atas. Perencanaan lebih bersifat administratif (manajerial) yaitu sudah lebih jelas menunjukkan kepada cara pencapaian tujuan dan bersifat memberi petunjuk pelak-sanaan dengan sebaik-baiknya.Middle Level Management terdiridariKepalaDepartemen (HOD), Manajer Cabang danEksekutif Junior.KepalaDepartemenadalahManajerKeuangan, Manajer Pembelian dan lain-lain.ManajerCabangadalahkepalacabangatau unit lokal.Junior EksekutifadalahAsistenManajerKeuangan, AsistenManajer Pembelian dan lain-lain.Manajementingkat Tengah dipiliholehManajemen Tingkat Atas.Manajementingkatmenengahlebihmenekankanpadatugassebagaiberikut:
a.       Manajementingkatmenengahmemberikanrekomendasi (saran) kepadamanajementingkatatas
b.      Menjalankankebijakandanrencana yang dibuatolehmanajementingkat atas
c.       Mengkoordinasikankegiatandarisemua departemen
d.      Manajer harusberkomunikasidenganmanajementingkatatasdanmanajementingkat yang lebih rendah
e.       Manajer menghabiskanlebihbanyakwaktudalamkoordinasidan berkomunikasi
f.       Manajer mempersiapkanrencanajangkapendekdepartemenmereka yang umumnyadibuat untuk 1 sampai 5 tahun
g.      Manajemen Tingkat menengahmemilikiketerbatasanwewenangdantanggungjawab.Merekaadalahperantaraantaramanajementingkatatasdanmanajemen yang lebih rendah
h.      Manajer bertanggungjawablangsungkepada CEO dandewan direksi
i.        Memerlukanketerampilanlebihdalammanajerialdanteknisdankurangdalamketerampilan konseptual
3.      Tingkat bawah (bottom-up)
Yaitu tingkat di mana tiap-tiap anggota kelompok lebih banyak mempunyai tugas menghasilkan, sehingga tugas itu bersifat operatif (operational) yaitu pekerjaan yang harus berakhir dengan menghasilkan sesuatu yang konkret. Maka sifat dari perencanaan pada tingkat ini juga lebih bersifat operatif, yaitu cara menjalankan sesuatu agar mencapai hasil yang sebaik dan sebesar mungkin.Low Level Management terdiridarimandordanpengawas.Merekadipiliholehmanajementingkatmenengah. Disebutjugatingkat Pengawas/Supervisor atau First Line of Management.Manajementingkat yang lebihrendahmelakukankegiatansebagaiberikut:
a.       Manajementingkatrendahmengarahkanpara pekerja/karyawan
b.      Manajer mengembangkan moral padapara pekerja
c.       Manajer memeliharahubunganantarapekerjadanmanajementingkat menengah
d.      Manajementingkat yang lebihrendahmenginformasikanparapekerjatentangkeputusan yang diambiloleh manajemen. Manajer jugamenginformasikanmanajemententangkinerja, kesulitan, perasaan, tuntutan dan lain-lain daripara pekerja
e.       Manajer menghabiskanlebihbanyakwaktudalammengarahkandan mengendalikan
f.       Manajertingkat yang lebihrendahmembuatrencana harian, mingguan dan bulanan
g.      Manajer memilikikewenanganterbatas,tetapitanggungjawabpentinguntukmendapatkanpekerjaan yang dilakukandariparapekerja. Merekasecarateraturmelaporkandanbertanggungjawablangsungkepadamanajementingkat menengah
h.      Seiringdenganpengalamandanmanajemendasarketerampilan, merekajugamemerlukanketerampilan yang lebihteknisdankemampuanberkomunikasi.


  
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Proses perencanaan adalah sebuah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dalam menyusun strategi dan langkah-langkah dalam menyusun dan menyelesaikan sebuah permasalahan serta memberikan solusi nyata terhadap permasalahan tersebut
2.      Proses perencanaan:
1)      Pengumpulan dan pemrosesan data (colection and processing of data)
2)      Diagnosa (diagnosis)
3)      Perumusan kebijakan (formulation of pollcy)
4)      Perkiraan kebutuhan masa yang akan dating (assemesment of future needs)
5)      Pembiayaan dari kebutuhan (costing of needs)
6)      Penentuan target (target setting)
7)      Perumusan rencana (plan formulation)
8)      Perincian rencana (paln elaboration)
9)      Pelaksanaan rencana (plan implementation)
10)  Penilaian (evalution)
11)  Revisi perencanaan kembali (revision and repplanning)
3.      Tingkatan perencanaan
a.       Tingkat atas (top level).
b.      Tingkat menengah (midle level)
c.       Tingkat bawah (bottom-up)






Daftar Pustaka

1.      Hasibuan, Malayu SP, (2011), Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, Jakarta: Bumi Aksara.
2.      Ukas, Maman, (2004), Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi. Bandung: Agnini.




[1]Ukas, Maman, (2004), Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi. Bandung: Agnini. Hlm 182
[2]Ukas, Maman, (2004), Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi. Bandung: Agnini. Hlm 185

[3]Ukas, Maman, (2004), Manajemen Konsep, Prinsip dan Aplikasi. Bandung: Agnini. Hlm 186
[4]Hasibuan, Malayu SP, (2011), Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah, Jakarta: Bumi Aksara. Hlm 97

Tidak ada komentar:

Posting Komentar